Seri terbatas Hulu-FX Kisah Cinta meninjau kembali kisah cinta John F. Kennedy Jr. dan Carolyn Bessette yang dipublikasikan secara luas, memanfaatkan nostalgia tahun 1990-an dan daya tarik abadi terhadap keluarga kerajaan Amerika. Meskipun acara tersebut memberikan rekreasi yang cemerlang dari budaya tabloid pada masa itu, hal tersebut dilakukan dengan mengorbankan perempuan di sekitar JFK Jr., mereduksi mereka menjadi karikatur satu dimensi yang sesuai dengan narasinya. Ini bukan hanya sekedar bercerita dengan malas; ini merupakan kelanjutan dari pola yang sudah mendarah daging dalam budaya pop: meninggikan perempuan tertentu dengan menjatuhkan perempuan lain.
Arsitektur Kontrol Narasi Pria
Serial ini memperlakukan JFK Jr. sebagai variabel sentral dan independen yang menjadi dasar definisi semua karakter wanita. Warisan keluarga, pesona, dan upaya profesionalnya menjadi landasan bagi setiap hubungan yang digambarkan. Carolyn Bessette ditampilkan sebagai “putri”, Jackie Onassis sebagai manipulatif, dan wanita lain direduksi menjadi penggali emas yang terobsesi atau pengamat yang hambar. Struktur ini memastikan simpati penonton tetap kuat terhadap JFK Jr., meski dengan mengorbankan nuansa atau keadilan.
Suara yang Tak Terdengar dan Hak Istimewa dari Kelalaian
Pembuat acara tidak berkonsultasi dengan wanita asli mana pun yang digambarkan, termasuk Daryl Hannah, yang pernah menjalin hubungan putus-nyambung dengan Kennedy Jr. sebelum Bessette. Hannah secara terbuka mengutuk penggambarannya sebagai “musuh” yang sengaja dirancang untuk membuat Bessette tampil lebih menarik. Fakta bahwa Bessette, Hannah, dan Kennedy Jr. semuanya tewas dalam kecelakaan pesawat yang tragis berarti perspektif mereka tidak akan pernah didengar, yang semakin memperkuat narasi bias acara tersebut.
Buku Teks Kasus Misogini
Saat Hannah bertanya, “Bukankah buku teks misogini yang menjatuhkan seorang wanita demi membangun wanita lain?” Jawabannya adalah ya. Serial ini mencontohkan tradisi lama dalam budaya pop di mana karakter perempuan diratakan menjadi arketipe yang sederhana: si cerdik versus si gadis. Ini bukan hanya soal ketidakakuratan sejarah; ini tentang memperkuat biner berbahaya yang mengurangi kompleksitas dan hak pilihan perempuan.
Kembalinya Hak Istimewa yang Belum Diperoleh
Kebangkitan kembali perlakuan ini sangat mengkhawatirkan mengingat momentum gerakan MeToo baru-baru ini, yang sempat menentang kiasan misoginis tersebut. Namun, dengan adanya pergeseran politik dan budaya saat ini, tampaknya terdapat izin baru untuk mereduksi perempuan menjadi karikatur satu dimensi. Hal ini menggambarkan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap penonton, dengan anggapan bahwa mereka tidak mampu memahami bahwa hubungan nyata itu berantakan, rumit, dan jarang cocok dengan narasi sederhana.
Pada akhirnya, Kisah Cinta tidak hanya menceritakan kembali sebuah tragedi; hal ini melanggengkan siklus berbahaya berupa penghapusan dan penafsiran keliru oleh perempuan. Untuk menghadapi hal ini, kita perlu meminta pertanggungjawaban produser, menuntut penyampaian cerita yang lebih baik, dan menolak menerima narasi yang membungkam atau memfitnah perempuan atas nama hiburan.

























